19.3.16

Menyampaikan Harapan Kecil Kepada Senja


Senja.

Kalau melihat senja aku mendadak ingin jadi romantis. Meski sendirian, pikiranku tetap akan menguap kemana-mana. Menimbulkan gelembung-gelembung imajinasinya sendiri. Salah satunya dan yang paling kuingat adalah saat aku dan kamu menikmati senja bersama. Tidak perlu ditempat yang mewah, hanya di bukit belakang rumah. Kala itu, kita bergandengan tangan dengan nyaman. Hatiku pun tidak lagi berdegup kencang. 

Kita berdua sama-sama tahu kalau senja tidak perlu dinikmati dengan riuh. Tidak perlu banyak kata, karena kita berdua menikmati senja dalam diam. Tenang, seperti rindu yang ditabung pelan-pelan dan penuh kesunyian. Kamu pun seperti kehilangan kata, tapi matamu mengisyaratkan semuanya. Kerinduan yang sekian lama telah kamu tabur lewat udara akhirnya berujung pada pertemuan kita dengan senja. Di sini, berdua.

Lewat senja aku ucapkan harapan paling dalam yang selalu menguap tak karuan. Semoga esok tidak lagi aku nikmati senja sendirian. Bukan apa-apa, kasihan rindu-rindu ini belum menemukan tuan. 

Oh, Tuhan jangan Kau katakan kalau permintaan aku ini terlalu tinggi.

Ika
19/03
lokasi foto: Plawangan Sembalun

2.3.16

Sepi

Tiap malam datang
kesepian langsung menunjukkan kesombongan
kenapa kamu suka sekali termenung memandang bulan?
Padahal bulan tidak datang tiap malam
"Aku hanya suka menatap langit, mereka tidak pernah berubah apalagi pergi."

Kalimatnya diucapkan datar tanpa nada,
namun mengisyaratkan luka yang tidak bisa dibagi.


Ika
02/03

Merbabu Trip, Februari 2016

Pada dasarnya saya menyukai gunung yang menyediakan pemandangan hijau sejauh mata memandang. Setelah Rinjani, saya memilih untuk mengunjungi Merbabu, salah satu gunung yang berada di Jawa Tengah.



Hujan mulai menemani kami saat tiba di posko pendakian gunung Merbabu, sebentar surut namun tak lama kemudian hujan kembali datang. Daripada menunggu terlalu lama, kami memutuskan untuk berjalan dibawah rintikan hujan. Tentunya dengan menggunakan jas hujan yang memang sudah dipersiapkan. Kami memilih jalur Selo untuk jalur pendakian sekaligus untuk jalur turun. Saya lupa kapan tepatnya kami sampai di pos 3 sebelum Sabana 2 tempat kami berkemah, maklum saja saya selalu lupa untuk melihat jam. Kami memutuskan untuk berkemah di pos 3 karena saat itu hari sudah gelap dan hujan semakin deras disertai angin kencang. Rombongan kami yang terdiri dari 6 orang terpisah menjadi dua rombongan. Genta – Aisha – dan saya sampai lebih dulu dan membangun tenda dibawah hujan deras. Tidak berapa lama Tiqa & Morang sampai di pos 3, lalu dimana Dzaki? Ternyata kaki Dzaki keram sehingga dia menunggu bala bantuan datang, turunlah Genta untuk membantu Dzaki.


Tidak perlu ditanya betapa menggigilnya kami saat itu, jari-jari tangan bahkan sudah tidak bisa dirasakan. Baju kami semua basah, entah darimana masuknya air hujan padahal kami sudah mengenakan jas hujan. Ketika satu tenda sudah tegak, saya – Morang – Tika langsung masuk untuk menghangatkan tubuh. Sementara tidak berapa lama Genta & Dzaki datang, Aisha masih tetap membangun tenda kedua bersama Genta. Nasib mendaki gunung di musim hujan, he-he. Setelah semalaman ditemani hujan badai dan kejadian kaki Dzaki yang mendadak keram, akhirnya menjelang pagi hujan pun mulai reda. Hanya rintikan halus menyerupai embun, menjelang jam 9 pagi, kami bersiap-siap untuk menuju puncak Kenteng Songo. Bersyukur banget selama perjalanan menuju puncak cuaca cerah, langit biru dan gumpalan awan-awan yang menyerupai cotton candy menemani perjalanan kami. Kami juga bisa melihat puncak Merapi yang sangat gagah, semoga dalam waktu dekat bisa kesana. Aamiin.









Melihat Sabana dan bukit penyesalan mengingatkan saya kepada Rinjani, tapi Merbabu bisa dikatakan sebagai bentuk mini dari Rinjani. Kenapa? Karena Rinjani punya tujuh bukit penyesalan, sementara Merbabu punya 3. Sama-sama bikin kaki cenat-cenut sih, tapi sepadan dengan pemandangan yang disajikan. Sangat disayangkan ketika sampai di puncak, cuaca berubah drastis menjadi mendung dan kabut pun turun. Sehingga kami tidak bisa melihat pemandangan dari atas puncak Merbabu. Tapi cukup adil rasanya dikala musim hujan seperti ini Merbabu tidak melulu menurunkan hujan. Jadi, bisa dibilang kami mendapat semua paket, mulai dari kehujanan dan menggigil, matahari yang mengintip malu-malu, hingga kabut tebal yang menutupi sebagian keindahan gunung Merbabu. 


Ika
02/03

25.10.15


Mungkin senja ada untuk dirindukan, dengan tenang dalam diam.

Ika
25/10

Rinjani Trip, 14 - 17 Oktober 2015


"Thousands of tired, nerve-shaken, over-civilized people are beginning to find out that going to the mountains is going home; that wildness is a necessity."
- John Muir -










Ika
25/10

Menggapai Puncak Rinjani


Puncak Rinjani, 3726 mdpl

Tahun ini salah satu bucketlist saya adalah naik gunung, mengingat tahun lalu saya hanya sekali mendaki gunung, yaitu Papandayan. Itu sekaligus menjadi pendakian pertama saya. Kemudian, tidak usah ditanya, saya langsung ketagihan. Bagaimana tidak? Selama pendakian, gunung selalu punya kejutannya sendiri. Salah satunya adalah pemandangan luar biasa yang tidak bisa kalian temukan di Jakarta atau di kota besar mana pun. Namun, gunung tidak akan membiarkan kita menikmati keindahannya sebelum kita berusaha. Lewat berjalan jauh, turun lalu mendaki lalu mengulang kembali, kita bisa mendapatkan apa yang sudah selayaknya kita dapatkan. Semacam ulangan sekolah dulu, kita tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan tanpa usaha belajar yang giat. Banyak yang bertanya dan mengatakan kepada saya: "kenapa sih liburan harus capek-capek?" "gue ga ngerti kenapa orang suka naik gunung, capek kali." Dan beberapa ungkapan lainnya. Namun, mendaki bukan sekedar liburan yang melelahkan pada awalnya. Mendaki merupakan perjalanan yang menerbitkan kesunyian bagi diri sendiri, ditengah hiruk pikuk kota besar yang memaksa kita untuk berubah menjadi liar.

Hari ke-1:
14 Oktober 2015


Perjalanan menuju Puncak Rinjani bisa dibilang bukan perjalanan yang mudah, dan tentunya melelahkan. Pada Permulaan tracknya saja kita sudah diajak untuk jalan menanjak dengan sedikit bonus track dan jalan menurun. Saat itu cuaca juga cukup panas dan kering. Kami memulai perjalanan sekitar pukul 11 siang dan sampai di Pos 3 atau Padang Balong sekitar pukul setengah 5 sore. Kami memutuskan untuk berkemah di Pos 3 dan melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun pada esok hari. Sekedar tips untuk kalian yang ingin mendaki Rinjani, disarankan untuk menyewa 1 porter untuk dua orang. Silakan dihitung sendiri jika jumlah rombongan melewati 10 orang. Kalian akan tahu manfaatnya ketika sudah merasakan sendiri pengalamannya. Hi-hi. :p Kemarin saya hanya menyewa 2 porter untuk 7 orang, itu pun kami memutuskan untuk menambah porter saat sudah berada di basecamp pendakian. Ngga kebayang kalau kami benar-benar hanya menyewa 1 porter. :D


lokasi kemah di Padang Balong atau Pos 3

view pagi hari disekitar Padang Balong

Hari ke-2:
15 Oktober 2015
Sekitar pukul 10 pagi, saya dan rombongan sudah siap-siap menuju Plawangan Sembalun. Pendakian menuju bukit penyesalan akan segera dimulai, saya jujurnya, sih, deg-degan takut pingsan ditengah jalan. Karena sebelum pendakian, saya hampir ngga pernah olahraga. Paling senam-senam kecil dan renang-renang lucu. Jadi ngga heran kalau selama perjalanan saya selalu jadi yang paling akhir, karena sebentar-sebentar berhenti. Saya juga ngga menghitung sudah berapa bukit yang dilewati, yang jelas setiap saya lihat ke belakang, pemandangannya bikin merinding. Oh ya, siapkan air minum setidaknya 1 liter dan juga cemilan kecil, karena track disini lumayan panjang dan bikin haus sekaligus lapar. Kurang lebih enam jam perjalanan ditempuh dari Padang Balong hingga ke Plawangan Sembalun, sekitar pukul 4 sore saya dan teman-teman sampai di Plawangan Sembalun. 

salah satu tanjakan di bukit penyesalan

view sekitar bukit penyesalan, puncak Rinjani sudah terlihat

Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun

Plawangan Sembalun

lokasi kemah di Plawangan Sembalun, awan mengitari kita

salah satu menu makanan kami, kelas!


Hari ke-3:
16 Oktober 2015
Rencana untuk summit kami adalah pukul 12 tengah malam, tapi karena angin saat itu lumayan kencang. Jadi, kami baru bisa berangkat jam setengah 3 dini hari. Berbekal tekad, dan doa, kami siap menggapai Puncak Rinjani. Udara cukup dingin dan angin masih kencang. Sejujurnya saya sedikit takut ketika harus berjalan malam hari, karena penglihatan yang kurang bagus. Belum apa-apa, track menuju puncak sudah terasa berat. Bukan bebatuan lagi yang saya temukan, tapi track pasir yang bikin kaki rasanya cepat lelah. Saya tidak terlalu tergesa dan harus bisa mengatur nafas. Karena semakin tinggi, nafas juga tidak bisa terlalu panjang. Ketika sunrise terbit, saya dan rombongan belum sampai di puncak. Tapi saya sempat melihatnya saat diperjalanan. Seperti yang dijanjikan, matahari akan selalu tepat waktu.

menjelang sunrise

Semakin mendekati puncak, perjalanan jadi terasa semakin berat. Kami mulai terpisah satu per satu, angin kencang dan juga medan dengan tidak banyak tempat untuk berlindung memaksa saya untuk terus berjalan, karena kalau terlalu lama berhenti akan terasa dingin. Di pertengahan jalan, sempat terpikirkan untuk kembali saja ke bawah, namun jarak antara puncak dan tempat kemah sama jauhnya. Kemudian saya memutuskan untuk berhenti sebentar, ngga bohong kalau saya juga pengin nangis saking capeknya dan ngga sampai-sampai puncak. Hu-hu. Tapi, setelah melihat pemandangan disekeliling, saya serasa punya kekuatan lagi untuk mendaki jalan yang tingkat kemiringannya sekitar 40 - 60 derajat ini. 


we start, we struggle, we rise, we alive

Setelah sekitar 6 jam perjalanan yang melelahkan, sekaligus bergelut dengan diri sendiri, saya tiba di Puncak Rinjani. Tidak masalah jadi yang paling akhir, asalkan sampai. Saya masih ngga percaya kalau akhirnya saya ada di Puncak Rinjani, rasanya mau nangis tapi malu. Ha-ha. Jadi aja cuma bengong. Ngga perlu ditanya, perasaan pas sampai puncak. Semua rasa capek hilang mendadak, saya cuma bisa mengucap syukur atas kebesaranNya. Tuhan itu ada, Dia datang bersama dengan segala keindahanNya dan juga kekuatanNya untuk meneguhkan hati setiap hambaNya yang percaya. Subhanallah. Terimakasih Tuhan, kami semua summit!

ki - ka: Are, Aisha, Mang Adi, Cipta, Aris, Eje dan Saya.


Ika
25/10



16.5.15

#sjk-16




Untuk satu hal yang tidak mudah disampaikan,
aku menuliskannya agar abadi.
Ternyata usaha saja tidak cukup,
untuk menangkap kamu.

Kamu lebih suka menjadi angin,
menyentuh tanpa perlu ketahuan.

Lalu hilang.


Ika
16/05
2015

soal penasaran

Harusnya tidak perlu penasaran dan kepengin tahu. Apalagi kamu belum siap untuk menerima jawabannya. Mungkin sebenarnya kamu sudah tahu jawabannya, namun belum puas saja jika belum mendapat pengakuan dari objeknya secara langsung. Yang akhirnya, menyakiti hatimu. Kamu sangat tahu itu.

Mungkin benar yang ditulis Ayu Utami dibukunya kalau penasaran adalah sikap yang lancang. Karena penasaran akan suatu hal, kita jadi merasa punya wewenang untuk bertanya se-enaknya. Tanpa perlu tahu apa yang dirasakan dia yang kamu tanyakan. Contoh kecilnya saja: "Kapan menikah?". Padahal siapa tahu dia yang kamu tanya sedang dalam masa pengobatan diri karena patah hati, dia yang kamu tanya sedang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ada baiknya jika kamu mulai meminimalisir rasa ke-ingin-tahuan dan penasaran. Bukan berarti tidak peduli, tapi rasa-rasanya jika tidak terlalu penting tidak usah melontarkan sebuah pertanyaan. Apalagi yang bisa menyakiti diri sendiri.


Ika
16/05

14.5.15

yang mengganggu pikiran

Bagaimana perasaan bisa terbagi-bagi? Kepada dua atau mungkin lima orang sekaligus. Tapi bukannya akan selalu ada yang jadi nomor satu? Lalu kenapa harus membiarkan yang lain merasa diperhatikan dan layak diberikan banyak cinta. Mungkin saya belum pernah berada pada tahap itu, tapi saya juga tidak mau ada disana. Membayangkan membagi perasaan saja sudah sulit apalagi menjalaninya. Mungkin Tuhan tahu kapasitas saya, oleh karena itu saya belum pernah ada pada tahap yang membingungkan seperti itu.

Mungkin karena hal tersebut, kita sebagai manusia seringkali berpura-pura, hanya untuk terlihat bahagia. Beberapa hari ini saya lumayan merasa banyak pikiran, bukan urusan pekerjaan (kalau hal ini ya sudahlah memang akan selalu ada kendala, tapi lupakan saja). Saya berpikir bagaimana kalau nantinya saya menikah dengan seseorang yang sebenarnya tidak bisa membuat saya bahagia, hanya saja dia memiliki syarat sebagai pendamping hidup yang baik dan bergaransi akan awet seperti barang mewah yang tidak takut rusak. Seperti: dia pekerja keras, sabar, bertanggung jawab, baik, sayang keluarga, mapan dan paling penting adalah dia mencintai saya. Urusan saya mencintai dia atau tidak bisa dipikirkan belakangan. Toh cinta akan datang seiring kebersamaan. Semakin dewasa akan banyak pertimbangan dalam hidup yang (menurut saya) tidak masuk akal. Mungkin benar ungkapan kalau cinta saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga. Tapi kalau disuruh berpura-pura bagaimana? Mengerikan sekali.

Bisa jadi karena hal tadi, makanya banyak terjadi perselingkuhan. Karena salah satu pihak merasa tidak puas akan perasaannya. Mereka jadi punya kewajiban untuk menemukan kembali seseorang yang bisa membuat bahagia tanpa harus meninggalkan yang lain. 

Karena tujuan utama dari kehidupan manusia adalah kebahagiaan. Kita bahkan rela mengecewakan orang lain demi menjadi bahagia. Kok saya merasa, kalau kita adalah makhluk yang egois dan kejam. Tapi bukannya itu adalah hal yang lumrah, hanya saja jarang diakui. Manusia jarang mengakui hal-hal jelek yang pernah atau yang akan dilakukannya. Hanya sedikit yang mau mengakuinya secara blak-blakan.

(Catatan kecil: Saya masih mengingat tatapan mata kosong yang tidak bisa dijelaskan secara mudah disini. Hanya saja saya merasa ada kesedihan dan kebingungan disana, yang mungkin bagi pemilik mata tersebut sudah dibiarkan menyatu dalam raga dan rasa. Hingga dia sendiri tidak bisa melepaskan jerat kesedihannya. Semoga apa yang saya pikirkan salah. Karena ini sangat mengganggu pikiran saya, dan saya tidak suka emosi kesedihan orang lain menjalar diam-diam ke pikiran dan perasaan saya. Tapi bukankan mata adalah tempat kejujuran bermuara? Semoga kita semua ber-bahagia tanpa perlu ada yang tersakiti.)


Ika
14/05