7.10.17

Perjalanan Menuju Jiwa Laut

Dalam kurun waktu dua tahun ini, saya udah 5 x bolak balik Jkt-Yogya. WOW! Ngapain aja, neng? Ga bosen? Jawabannya: tentu tidak! Kalau bosen, ya, ga balik lagi, dong. Elah! Buat saya, Yogya selalu punya cerita sendiri, kota yang tenang, santai, tidak terburu-buru macam Jakarta yang kalau baru lampu kuning aja udah diklaksonin. WOI, situ kebelet banget emang? *inhale-exhale*


Yang berbeda dari perjalanan saya kali ini adalah: saya mau wisata pantai Yogya (mencoba menjadi anak pantai, meski sewaktu kecil juga rumah kakek-nenek tinggal jalan dikit udah laut, #oketoomuchinformation) back to topic. Dalam perjalanan saya kali ini saya ga bikin itin, yang bikin Willi, saya cuma bilang: “mau wisata pantai di Yogya, deh.” Kemudian dia yang browsing & siapin semuanya, iya SEMUANYA! (Mungkin someday kita bisa punya biro travel bersama, ya, Will? :p) Kesel ga sama saya? Udah banyak mau, tapi ga mau repot. I love you, Willi! (Giliran gini aja I LOVE YOU, haha).


Setelah Willi browsing-browsing, entah darimana, dia menemukan sebuah tempat bernama “Jiwa Laut” yang terletak di Gunung Kidul. Pas Willi kirim gambarnya, saya langsung mengiyakan, kemudian ikut browsing. Kesan pertama saya: “Wah, jauh dari mana-mana, ini. Kok kayaknya tempatnya terpencil banget.” Kemudian saya mulai membayangkan beberapa adegan horor (kebiasaan, belum apa-apa udah parno sendiri). 😅

View disepanjang perjalanan menuju Jiwa Laut, sepi.

Setelah 2,5 jam berkendara dengan motor yg disertai angin kencang hampir disepanjang perjalanan (yg bikin masuk angin, *brb dahak*) akhirnya kita sampai di Jiwa Laut. Kesan pertama saya, WADDDAAAWWW KEREN!


Pendopo yg paling besar, itulah tempat menginap saya

Pas sampai, kita langsung disambut hangat sama owner Jiwa Laut, yaitu Mba Ira dan Febri. Setelah perkenalan singkat, kita diantar oleh Febri untuk berkeliling melihat-lihat bangunan, selama berkeliling dalam hati saya selalu bilang; “Njirrr, kece bet, sih ini. Viewnya langsung sawah & laut.”Bangunan Jiwa Laut terinspirasi dari rumah tradisional Joglo, sehingga sebagian besar elemen bangunannya adalah kayu. Bangunan ini juga pernah mendapat Green Building Awards di Swiss, kepedulian akan lingkungan bikin Mba Ira membangun Jiwa Laut, selain itu Mba Ira juga ingin memaksimalkan potensi wisata pantai Watu Kodok. Inspiratif banget ga, sih! *Terus saya langsung merasa kecil dan menciut, siapa lah aku ini, cuma remahan rengginang yang banyak mau. PFFFTTTH!*


 Ada hammock juga buat santai di balkon, sambil kena angin sepoi-sepoi

 Interior ruang tengah

Asyik kan viewnya?

Setelah berkeliling disekitar penginapan, kita disambut lagi dengan teh herbal *duh, saya lupa namanya*. Rasanya mirip sama jamu kunyit tapi lebih ringan, katanya bisa mencegah masuk angin, pas banget sama saya yang rasa-rasanya udah kemasukan banyak angin diperjalanan. Selain teh, makanan yang disajikan di Jiwa Laut juga enak, kalau kid jaman now bilang mantap soul! Saya pesan udang bakar & gurita goreng tepung, sementara Willi pesan ikan. Semuanya enak! Dan saya pun senang. Kita juga berkenalan dengan Chakie, turis asal Amerika yang berprofesi sebagai penulis.


Dari Jiwa Laut, kita bisa berjalan-jalan untuk melihat beberapa pantai, seperti pantai Drini dan pantai Watu Kodok. Setiap ingin masuk ke pantai, akan dikenakan biaya Rp 2 ribu/orang. Pantainya cukup ramai, banyak payung-payung besar ala penjual teh botol tapi dengan warna-warna gemas yang instagramable banget. Payung-payung ini beralaskan tikar dan disewakan untuk sekedar bersantai di pantai sambil melihat birunya air laut. Ntap ga tuh, bro!




 Banyak yang buka tenda juga, nih!

Payung lebar warna-warni yang instagramable bingit

Nah, buat kalian yang ingin kabur sejenak dari segala keramaian dan keriweuhan ibukota, Jiwa Laut bisa jadi salah satu tempat pilihan. Di jamin pikiran tenang, dan ga mau pulang. Saya aja lumayan menyesal karena cuma menginap 1 malam. Will be back again soon! *Colek Willi*

19.3.16

Menyampaikan Harapan Kecil Kepada Senja


Senja.

Kalau melihat senja aku mendadak ingin jadi romantis. Meski sendirian, pikiranku tetap akan menguap kemana-mana. Menimbulkan gelembung-gelembung imajinasinya sendiri. Salah satunya dan yang paling kuingat adalah saat aku dan kamu menikmati senja bersama. Tidak perlu ditempat yang mewah, hanya di bukit belakang rumah. Kala itu, kita bergandengan tangan dengan nyaman. Hatiku pun tidak lagi berdegup kencang. 

Kita berdua sama-sama tahu kalau senja tidak perlu dinikmati dengan riuh. Tidak perlu banyak kata, karena kita berdua menikmati senja dalam diam. Tenang, seperti rindu yang ditabung pelan-pelan dan penuh kesunyian. Kamu pun seperti kehilangan kata, tapi matamu mengisyaratkan semuanya. Kerinduan yang sekian lama telah kamu tabur lewat udara akhirnya berujung pada pertemuan kita dengan senja. Di sini, berdua.

Lewat senja aku ucapkan harapan paling dalam yang selalu menguap tak karuan. Semoga esok tidak lagi aku nikmati senja sendirian. Bukan apa-apa, kasihan rindu-rindu ini belum menemukan tuan. 

Oh, Tuhan jangan Kau katakan kalau permintaan aku ini terlalu tinggi.

Ika
19/03
lokasi foto: Plawangan Sembalun

2.3.16

Merbabu Trip, Februari 2016

Pada dasarnya saya menyukai gunung yang menyediakan pemandangan hijau sejauh mata memandang. Setelah Rinjani, saya memilih untuk mengunjungi Merbabu, salah satu gunung yang berada di Jawa Tengah.



Hujan mulai menemani kami saat tiba di posko pendakian gunung Merbabu, sebentar surut namun tak lama kemudian hujan kembali datang. Daripada menunggu terlalu lama, kami memutuskan untuk berjalan dibawah rintikan hujan. Tentunya dengan menggunakan jas hujan yang memang sudah dipersiapkan. Kami memilih jalur Selo untuk jalur pendakian sekaligus untuk jalur turun. Saya lupa kapan tepatnya kami sampai di pos 3 sebelum Sabana 2 tempat kami berkemah, maklum saja saya selalu lupa untuk melihat jam. Kami memutuskan untuk berkemah di pos 3 karena saat itu hari sudah gelap dan hujan semakin deras disertai angin kencang. Rombongan kami yang terdiri dari 6 orang terpisah menjadi dua rombongan. Genta – Aisha – dan saya sampai lebih dulu dan membangun tenda dibawah hujan deras. Tidak berapa lama Tiqa & Morang sampai di pos 3, lalu dimana Dzaki? Ternyata kaki Dzaki keram sehingga dia menunggu bala bantuan datang, turunlah Genta untuk membantu Dzaki.


Tidak perlu ditanya betapa menggigilnya kami saat itu, jari-jari tangan bahkan sudah tidak bisa dirasakan. Baju kami semua basah, entah darimana masuknya air hujan padahal kami sudah mengenakan jas hujan. Ketika satu tenda sudah tegak, saya – Morang – Tika langsung masuk untuk menghangatkan tubuh. Sementara tidak berapa lama Genta & Dzaki datang, Aisha masih tetap membangun tenda kedua bersama Genta. Nasib mendaki gunung di musim hujan, he-he. Setelah semalaman ditemani hujan badai dan kejadian kaki Dzaki yang mendadak keram, akhirnya menjelang pagi hujan pun mulai reda. Hanya rintikan halus menyerupai embun, menjelang jam 9 pagi, kami bersiap-siap untuk menuju puncak Kenteng Songo. Bersyukur banget selama perjalanan menuju puncak cuaca cerah, langit biru dan gumpalan awan-awan yang menyerupai cotton candy menemani perjalanan kami. Kami juga bisa melihat puncak Merapi yang sangat gagah, semoga dalam waktu dekat bisa kesana. Aamiin.









Melihat Sabana dan bukit penyesalan mengingatkan saya kepada Rinjani, tapi Merbabu bisa dikatakan sebagai bentuk mini dari Rinjani. Kenapa? Karena Rinjani punya tujuh bukit penyesalan, sementara Merbabu punya 3. Sama-sama bikin kaki cenat-cenut sih, tapi sepadan dengan pemandangan yang disajikan. Sangat disayangkan ketika sampai di puncak, cuaca berubah drastis menjadi mendung dan kabut pun turun. Sehingga kami tidak bisa melihat pemandangan dari atas puncak Merbabu. Tapi cukup adil rasanya dikala musim hujan seperti ini Merbabu tidak melulu menurunkan hujan. Jadi, bisa dibilang kami mendapat semua paket, mulai dari kehujanan dan menggigil, matahari yang mengintip malu-malu, hingga kabut tebal yang menutupi sebagian keindahan gunung Merbabu. 


Ika
02/03

25.10.15


Mungkin senja ada untuk dirindukan, dengan tenang dalam diam.

Ika
25/10

Rinjani Trip, 14 - 17 Oktober 2015


"Thousands of tired, nerve-shaken, over-civilized people are beginning to find out that going to the mountains is going home; that wildness is a necessity."
- John Muir -










Ika
25/10

Menggapai Puncak Rinjani


Puncak Rinjani, 3726 mdpl

Tahun ini salah satu bucketlist saya adalah naik gunung, mengingat tahun lalu saya hanya sekali mendaki gunung, yaitu Papandayan. Itu sekaligus menjadi pendakian pertama saya. Kemudian, tidak usah ditanya, saya langsung ketagihan. Bagaimana tidak? Selama pendakian, gunung selalu punya kejutannya sendiri. Salah satunya adalah pemandangan luar biasa yang tidak bisa kalian temukan di Jakarta atau di kota besar mana pun. Namun, gunung tidak akan membiarkan kita menikmati keindahannya sebelum kita berusaha. Lewat berjalan jauh, turun lalu mendaki lalu mengulang kembali, kita bisa mendapatkan apa yang sudah selayaknya kita dapatkan. Semacam ulangan sekolah dulu, kita tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan tanpa usaha belajar yang giat. Banyak yang bertanya dan mengatakan kepada saya: "kenapa sih liburan harus capek-capek?" "gue ga ngerti kenapa orang suka naik gunung, capek kali." Dan beberapa ungkapan lainnya. Namun, mendaki bukan sekedar liburan yang melelahkan pada awalnya. Mendaki merupakan perjalanan yang menerbitkan kesunyian bagi diri sendiri, ditengah hiruk pikuk kota besar yang memaksa kita untuk berubah menjadi liar.

Hari ke-1:
14 Oktober 2015


Perjalanan menuju Puncak Rinjani bisa dibilang bukan perjalanan yang mudah, dan tentunya melelahkan. Pada Permulaan tracknya saja kita sudah diajak untuk jalan menanjak dengan sedikit bonus track dan jalan menurun. Saat itu cuaca juga cukup panas dan kering. Kami memulai perjalanan sekitar pukul 11 siang dan sampai di Pos 3 atau Padang Balong sekitar pukul setengah 5 sore. Kami memutuskan untuk berkemah di Pos 3 dan melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun pada esok hari. Sekedar tips untuk kalian yang ingin mendaki Rinjani, disarankan untuk menyewa 1 porter untuk dua orang. Silakan dihitung sendiri jika jumlah rombongan melewati 10 orang. Kalian akan tahu manfaatnya ketika sudah merasakan sendiri pengalamannya. Hi-hi. :p Kemarin saya hanya menyewa 2 porter untuk 7 orang, itu pun kami memutuskan untuk menambah porter saat sudah berada di basecamp pendakian. Ngga kebayang kalau kami benar-benar hanya menyewa 1 porter. :D


lokasi kemah di Padang Balong atau Pos 3

view pagi hari disekitar Padang Balong

Hari ke-2:
15 Oktober 2015
Sekitar pukul 10 pagi, saya dan rombongan sudah siap-siap menuju Plawangan Sembalun. Pendakian menuju bukit penyesalan akan segera dimulai, saya jujurnya, sih, deg-degan takut pingsan ditengah jalan. Karena sebelum pendakian, saya hampir ngga pernah olahraga. Paling senam-senam kecil dan renang-renang lucu. Jadi ngga heran kalau selama perjalanan saya selalu jadi yang paling akhir, karena sebentar-sebentar berhenti. Saya juga ngga menghitung sudah berapa bukit yang dilewati, yang jelas setiap saya lihat ke belakang, pemandangannya bikin merinding. Oh ya, siapkan air minum setidaknya 1 liter dan juga cemilan kecil, karena track disini lumayan panjang dan bikin haus sekaligus lapar. Kurang lebih enam jam perjalanan ditempuh dari Padang Balong hingga ke Plawangan Sembalun, sekitar pukul 4 sore saya dan teman-teman sampai di Plawangan Sembalun. 

salah satu tanjakan di bukit penyesalan

view sekitar bukit penyesalan, puncak Rinjani sudah terlihat

Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun

Plawangan Sembalun

lokasi kemah di Plawangan Sembalun, awan mengitari kita

salah satu menu makanan kami, kelas!


Hari ke-3:
16 Oktober 2015
Rencana untuk summit kami adalah pukul 12 tengah malam, tapi karena angin saat itu lumayan kencang. Jadi, kami baru bisa berangkat jam setengah 3 dini hari. Berbekal tekad, dan doa, kami siap menggapai Puncak Rinjani. Udara cukup dingin dan angin masih kencang. Sejujurnya saya sedikit takut ketika harus berjalan malam hari, karena penglihatan yang kurang bagus. Belum apa-apa, track menuju puncak sudah terasa berat. Bukan bebatuan lagi yang saya temukan, tapi track pasir yang bikin kaki rasanya cepat lelah. Saya tidak terlalu tergesa dan harus bisa mengatur nafas. Karena semakin tinggi, nafas juga tidak bisa terlalu panjang. Ketika sunrise terbit, saya dan rombongan belum sampai di puncak. Tapi saya sempat melihatnya saat diperjalanan. Seperti yang dijanjikan, matahari akan selalu tepat waktu.

menjelang sunrise

Semakin mendekati puncak, perjalanan jadi terasa semakin berat. Kami mulai terpisah satu per satu, angin kencang dan juga medan dengan tidak banyak tempat untuk berlindung memaksa saya untuk terus berjalan, karena kalau terlalu lama berhenti akan terasa dingin. Di pertengahan jalan, sempat terpikirkan untuk kembali saja ke bawah, namun jarak antara puncak dan tempat kemah sama jauhnya. Kemudian saya memutuskan untuk berhenti sebentar, ngga bohong kalau saya juga pengin nangis saking capeknya dan ngga sampai-sampai puncak. Hu-hu. Tapi, setelah melihat pemandangan disekeliling, saya serasa punya kekuatan lagi untuk mendaki jalan yang tingkat kemiringannya sekitar 40 - 60 derajat ini. 


we start, we struggle, we rise, we alive

Setelah sekitar 6 jam perjalanan yang melelahkan, sekaligus bergelut dengan diri sendiri, saya tiba di Puncak Rinjani. Tidak masalah jadi yang paling akhir, asalkan sampai. Saya masih ngga percaya kalau akhirnya saya ada di Puncak Rinjani, rasanya mau nangis tapi malu. Ha-ha. Jadi aja cuma bengong. Ngga perlu ditanya, perasaan pas sampai puncak. Semua rasa capek hilang mendadak, saya cuma bisa mengucap syukur atas kebesaranNya. Tuhan itu ada, Dia datang bersama dengan segala keindahanNya dan juga kekuatanNya untuk meneguhkan hati setiap hambaNya yang percaya. Subhanallah. Terimakasih Tuhan, kami semua summit!

ki - ka: Are, Aisha, Mang Adi, Cipta, Aris, Eje dan Saya.


Ika
25/10



16.5.15

#sjk-16




Untuk satu hal yang tidak mudah disampaikan,
aku menuliskannya agar abadi.
Ternyata usaha saja tidak cukup,
untuk menangkap kamu.

Kamu lebih suka menjadi angin,
menyentuh tanpa perlu ketahuan.

Lalu hilang.


Ika
16/05
2015

soal penasaran

Harusnya tidak perlu penasaran dan kepengin tahu. Apalagi kamu belum siap untuk menerima jawabannya. Mungkin sebenarnya kamu sudah tahu jawabannya, namun belum puas saja jika belum mendapat pengakuan dari objeknya secara langsung. Yang akhirnya, menyakiti hatimu. Kamu sangat tahu itu.

Mungkin benar yang ditulis Ayu Utami dibukunya kalau penasaran adalah sikap yang lancang. Karena penasaran akan suatu hal, kita jadi merasa punya wewenang untuk bertanya se-enaknya. Tanpa perlu tahu apa yang dirasakan dia yang kamu tanyakan. Contoh kecilnya saja: "Kapan menikah?". Padahal siapa tahu dia yang kamu tanya sedang dalam masa pengobatan diri karena patah hati, dia yang kamu tanya sedang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ada baiknya jika kamu mulai meminimalisir rasa ke-ingin-tahuan dan penasaran. Bukan berarti tidak peduli, tapi rasa-rasanya jika tidak terlalu penting tidak usah melontarkan sebuah pertanyaan. Apalagi yang bisa menyakiti diri sendiri.


Ika
16/05

22.3.15

Hari yang Mengejutkan!


Rabu (18/03) siang kala itu tidak ada yang aneh, hanya saja saya dan dua orang teman (Sisca dan Fitri) sedang melakukan tugas di luar kantor. Tepatnya di Bekasi. Cuaca juga masih seperti biasa, matahari sedang senang-senangnya menampakkan diri alias terik sekali. Kami bertiga baru saja dijemput driver untuk makan siang, setelah melakukan survei pertama. Masih seru bercerita tentang bagaimana kami melakukan sesi interview singkat dengan beberapa customer tadi, sambil sedikit tertawa. Belum ada tiga menit mobil kami melaju keluar dari pertokoan, tiba-tiba... BRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK! Suara keras hantaman diiringi dengan terpentalnya tubuh kami ke posisi depan membuat saya sadar kalau mobil yang kami tumpangi ditabrak dari belakang. Se-per-sekian menit kami ber-empat terombang-ambing didalam mobil tersebut. Entahlah, kala itu kepala dan seluruh tubuh kami tertabrak apa saja, yang saya ingat hanya teriakan Pak Zaldi (driver) "Mobil kita ditabrak, Bu, mobil kita ditabrak...". Mobil pun berhenti setelah Pak Zaldi berhasil membuang arah kemudi ke kiri jalan dan menabrak sebuah pohon. Saya tidak berani membayangkan jika mobil kami terus terseret, karena besar kemungkinan akan menabrak mobil lainnya lagi. 

Orang-orang sekitar mulai berlarian ke arah mobil kami, dengan maksud untuk menolong. Saya berhasil turun dari mobil dan duduk di trotoar terdekat sambil menangis (anaknya emang gampang banget nangis) menunggu Sisca dan Fitri. Melihat keadaan Sisca yang penuh darah, jujur saya panik luar biasa. Saat itu juga yang saya lakukan adalah menghubungi salah satu rekan kerja dengan maksud memberikan kabar kalau kami mengalami kecelakaan dan tidak bisa melanjutkan survei. Singkat cerita, berkat bantuan dari orang-orang disekitar tempat kejadian, kami akhirnya bisa menuju ke RS terdekat dan segera mendapat perawatan di UGD.

Lewat kejadian diatas, saya berpikir bagaimana sebuah musibah bisa menimpa siapa pun dan dimana pun. Apa jadinya kalau hari itu saya dan penumpang lainnya tidak selamat? Mengingat sebelumnya saya tidak shalat Subuh, tidak mengucapkan salam saat berangkat ke kantor (ini baru saya ketahui ketika Ibu saya bercerita tentang firasat ngga enaknya), dan mungkin saat saya berangkat ke Bekasi saya juga lupa mengucapkan doa. Bagaimana kalau sebelum kejadian saya habis memarahi atau membohongi seseorang. Hu-hu mengerikan sekali bukan? Banyak sekali hal yang saya pikirkan selama di Rumah Sakit. 

Saya percaya apapun rencana Tuhan kala itu adalah yang terbaik. Buat saya bersyukur adalah satu-satunya cara yang paling ampuh untuk menghadapi situasi apapun. Kalau ditanya apakah trauma? Sejujurnya saya masih trauma. Saya bersyukur kalau seisi mobil bisa selamat dan masih dilindungi oleh Tuhan YME. Saya bersyukur masih banyak orang-orang yang rela membantu kami saat ditempat kejadian, saya bersyukur banyak teman-teman yang mengirimkan doa buat kami, saya bersyukur telah bekerja di perusahaan yang sigap membantu karyawannya ketika tertimpa musibah, saya bersyukur punya teman-teman perhatian dan senyum manis yang menghibur. Saya bersyukur memiliki keluarga yang ngga gampang panik dan suportif, he-he... Semuanya hanya sebagian kecil hal yang saya syukuri pada hari itu. Selebihnya biarkan tangan Tuhan yang bekerja untuk membalas semua kebaikan kalian. Terimakasih.


Ika