22.3.15

Hari yang Mengejutkan!


Rabu (18/03) siang kala itu tidak ada yang aneh, hanya saja saya dan dua orang teman (Sisca dan Fitri) sedang melakukan tugas di luar kantor. Tepatnya di Bekasi. Cuaca juga masih seperti biasa, matahari sedang senang-senangnya menampakkan diri alias terik sekali. Kami bertiga baru saja dijemput driver untuk makan siang, setelah melakukan survei pertama. Masih seru bercerita tentang bagaimana kami melakukan sesi interview singkat dengan beberapa customer tadi, sambil sedikit tertawa. Belum ada tiga menit mobil kami melaju keluar dari pertokoan, tiba-tiba... BRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK! Suara keras hantaman diiringi dengan terpentalnya tubuh kami ke posisi depan membuat saya sadar kalau mobil yang kami tumpangi ditabrak dari belakang. Se-per-sekian menit kami ber-empat terombang-ambing didalam mobil tersebut. Entahlah, kala itu kepala dan seluruh tubuh kami tertabrak apa saja, yang saya ingat hanya teriakan Pak Zaldi (driver) "Mobil kita ditabrak, Bu, mobil kita ditabrak...". Mobil pun berhenti setelah Pak Zaldi berhasil membuang arah kemudi ke kiri jalan dan menabrak sebuah pohon. Saya tidak berani membayangkan jika mobil kami terus terseret, karena besar kemungkinan akan menabrak mobil lainnya lagi. 

Orang-orang sekitar mulai berlarian ke arah mobil kami, dengan maksud untuk menolong. Saya berhasil turun dari mobil dan duduk di trotoar terdekat sambil menangis (anaknya emang gampang banget nangis) menunggu Sisca dan Fitri. Melihat keadaan Sisca yang penuh darah, jujur saya panik luar biasa. Saat itu juga yang saya lakukan adalah menghubungi salah satu rekan kerja dengan maksud memberikan kabar kalau kami mengalami kecelakaan dan tidak bisa melanjutkan survei. Singkat cerita, berkat bantuan dari orang-orang disekitar tempat kejadian, kami akhirnya bisa menuju ke RS terdekat dan segera mendapat perawatan di UGD.

Lewat kejadian diatas, saya berpikir bagaimana sebuah musibah bisa menimpa siapa pun dan dimana pun. Apa jadinya kalau hari itu saya dan penumpang lainnya tidak selamat? Mengingat sebelumnya saya tidak shalat Subuh, tidak mengucapkan salam saat berangkat ke kantor (ini baru saya ketahui ketika Ibu saya bercerita tentang firasat ngga enaknya), dan mungkin saat saya berangkat ke Bekasi saya juga lupa mengucapkan doa. Bagaimana kalau sebelum kejadian saya habis memarahi atau membohongi seseorang. Hu-hu mengerikan sekali bukan? Banyak sekali hal yang saya pikirkan selama di Rumah Sakit. 

Saya percaya apapun rencana Tuhan kala itu adalah yang terbaik. Buat saya bersyukur adalah satu-satunya cara yang paling ampuh untuk menghadapi situasi apapun. Kalau ditanya apakah trauma? Sejujurnya saya masih trauma. Saya bersyukur kalau seisi mobil bisa selamat dan masih dilindungi oleh Tuhan YME. Saya bersyukur masih banyak orang-orang yang rela membantu kami saat ditempat kejadian, saya bersyukur banyak teman-teman yang mengirimkan doa buat kami, saya bersyukur telah bekerja di perusahaan yang sigap membantu karyawannya ketika tertimpa musibah, saya bersyukur punya teman-teman perhatian dan senyum manis yang menghibur. Saya bersyukur memiliki keluarga yang ngga gampang panik dan suportif, he-he... Semuanya hanya sebagian kecil hal yang saya syukuri pada hari itu. Selebihnya biarkan tangan Tuhan yang bekerja untuk membalas semua kebaikan kalian. Terimakasih.


Ika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar