16.5.15

soal penasaran

Harusnya tidak perlu penasaran dan kepengin tahu. Apalagi kamu belum siap untuk menerima jawabannya. Mungkin sebenarnya kamu sudah tahu jawabannya, namun belum puas saja jika belum mendapat pengakuan dari objeknya secara langsung. Yang akhirnya, menyakiti hatimu. Kamu sangat tahu itu.

Mungkin benar yang ditulis Ayu Utami dibukunya kalau penasaran adalah sikap yang lancang. Karena penasaran akan suatu hal, kita jadi merasa punya wewenang untuk bertanya se-enaknya. Tanpa perlu tahu apa yang dirasakan dia yang kamu tanyakan. Contoh kecilnya saja: "Kapan menikah?". Padahal siapa tahu dia yang kamu tanya sedang dalam masa pengobatan diri karena patah hati, dia yang kamu tanya sedang berjuang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ada baiknya jika kamu mulai meminimalisir rasa ke-ingin-tahuan dan penasaran. Bukan berarti tidak peduli, tapi rasa-rasanya jika tidak terlalu penting tidak usah melontarkan sebuah pertanyaan. Apalagi yang bisa menyakiti diri sendiri.


Ika
16/05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar