14.5.15

yang mengganggu pikiran

Bagaimana perasaan bisa terbagi-bagi? Kepada dua atau mungkin lima orang sekaligus. Tapi bukannya akan selalu ada yang jadi nomor satu? Lalu kenapa harus membiarkan yang lain merasa diperhatikan dan layak diberikan banyak cinta. Mungkin saya belum pernah berada pada tahap itu, tapi saya juga tidak mau ada disana. Membayangkan membagi perasaan saja sudah sulit apalagi menjalaninya. Mungkin Tuhan tahu kapasitas saya, oleh karena itu saya belum pernah ada pada tahap yang membingungkan seperti itu.

Mungkin karena hal tersebut, kita sebagai manusia seringkali berpura-pura, hanya untuk terlihat bahagia. Beberapa hari ini saya lumayan merasa banyak pikiran, bukan urusan pekerjaan (kalau hal ini ya sudahlah memang akan selalu ada kendala, tapi lupakan saja). Saya berpikir bagaimana kalau nantinya saya menikah dengan seseorang yang sebenarnya tidak bisa membuat saya bahagia, hanya saja dia memiliki syarat sebagai pendamping hidup yang baik dan bergaransi akan awet seperti barang mewah yang tidak takut rusak. Seperti: dia pekerja keras, sabar, bertanggung jawab, baik, sayang keluarga, mapan dan paling penting adalah dia mencintai saya. Urusan saya mencintai dia atau tidak bisa dipikirkan belakangan. Toh cinta akan datang seiring kebersamaan. Semakin dewasa akan banyak pertimbangan dalam hidup yang (menurut saya) tidak masuk akal. Mungkin benar ungkapan kalau cinta saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga. Tapi kalau disuruh berpura-pura bagaimana? Mengerikan sekali.

Bisa jadi karena hal tadi, makanya banyak terjadi perselingkuhan. Karena salah satu pihak merasa tidak puas akan perasaannya. Mereka jadi punya kewajiban untuk menemukan kembali seseorang yang bisa membuat bahagia tanpa harus meninggalkan yang lain. 

Karena tujuan utama dari kehidupan manusia adalah kebahagiaan. Kita bahkan rela mengecewakan orang lain demi menjadi bahagia. Kok saya merasa, kalau kita adalah makhluk yang egois dan kejam. Tapi bukannya itu adalah hal yang lumrah, hanya saja jarang diakui. Manusia jarang mengakui hal-hal jelek yang pernah atau yang akan dilakukannya. Hanya sedikit yang mau mengakuinya secara blak-blakan.

(Catatan kecil: Saya masih mengingat tatapan mata kosong yang tidak bisa dijelaskan secara mudah disini. Hanya saja saya merasa ada kesedihan dan kebingungan disana, yang mungkin bagi pemilik mata tersebut sudah dibiarkan menyatu dalam raga dan rasa. Hingga dia sendiri tidak bisa melepaskan jerat kesedihannya. Semoga apa yang saya pikirkan salah. Karena ini sangat mengganggu pikiran saya, dan saya tidak suka emosi kesedihan orang lain menjalar diam-diam ke pikiran dan perasaan saya. Tapi bukankan mata adalah tempat kejujuran bermuara? Semoga kita semua ber-bahagia tanpa perlu ada yang tersakiti.)


Ika
14/05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar