25.10.15

Menggapai Puncak Rinjani


Puncak Rinjani, 3726 mdpl

Tahun ini salah satu bucketlist saya adalah naik gunung, mengingat tahun lalu saya hanya sekali mendaki gunung, yaitu Papandayan. Itu sekaligus menjadi pendakian pertama saya. Kemudian, tidak usah ditanya, saya langsung ketagihan. Bagaimana tidak? Selama pendakian, gunung selalu punya kejutannya sendiri. Salah satunya adalah pemandangan luar biasa yang tidak bisa kalian temukan di Jakarta atau di kota besar mana pun. Namun, gunung tidak akan membiarkan kita menikmati keindahannya sebelum kita berusaha. Lewat berjalan jauh, turun lalu mendaki lalu mengulang kembali, kita bisa mendapatkan apa yang sudah selayaknya kita dapatkan. Semacam ulangan sekolah dulu, kita tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan tanpa usaha belajar yang giat. Banyak yang bertanya dan mengatakan kepada saya: "kenapa sih liburan harus capek-capek?" "gue ga ngerti kenapa orang suka naik gunung, capek kali." Dan beberapa ungkapan lainnya. Namun, mendaki bukan sekedar liburan yang melelahkan pada awalnya. Mendaki merupakan perjalanan yang menerbitkan kesunyian bagi diri sendiri, ditengah hiruk pikuk kota besar yang memaksa kita untuk berubah menjadi liar.

Hari ke-1:
14 Oktober 2015


Perjalanan menuju Puncak Rinjani bisa dibilang bukan perjalanan yang mudah, dan tentunya melelahkan. Pada Permulaan tracknya saja kita sudah diajak untuk jalan menanjak dengan sedikit bonus track dan jalan menurun. Saat itu cuaca juga cukup panas dan kering. Kami memulai perjalanan sekitar pukul 11 siang dan sampai di Pos 3 atau Padang Balong sekitar pukul setengah 5 sore. Kami memutuskan untuk berkemah di Pos 3 dan melanjutkan perjalanan ke Plawangan Sembalun pada esok hari. Sekedar tips untuk kalian yang ingin mendaki Rinjani, disarankan untuk menyewa 1 porter untuk dua orang. Silakan dihitung sendiri jika jumlah rombongan melewati 10 orang. Kalian akan tahu manfaatnya ketika sudah merasakan sendiri pengalamannya. Hi-hi. :p Kemarin saya hanya menyewa 2 porter untuk 7 orang, itu pun kami memutuskan untuk menambah porter saat sudah berada di basecamp pendakian. Ngga kebayang kalau kami benar-benar hanya menyewa 1 porter. :D


lokasi kemah di Padang Balong atau Pos 3

view pagi hari disekitar Padang Balong

Hari ke-2:
15 Oktober 2015
Sekitar pukul 10 pagi, saya dan rombongan sudah siap-siap menuju Plawangan Sembalun. Pendakian menuju bukit penyesalan akan segera dimulai, saya jujurnya, sih, deg-degan takut pingsan ditengah jalan. Karena sebelum pendakian, saya hampir ngga pernah olahraga. Paling senam-senam kecil dan renang-renang lucu. Jadi ngga heran kalau selama perjalanan saya selalu jadi yang paling akhir, karena sebentar-sebentar berhenti. Saya juga ngga menghitung sudah berapa bukit yang dilewati, yang jelas setiap saya lihat ke belakang, pemandangannya bikin merinding. Oh ya, siapkan air minum setidaknya 1 liter dan juga cemilan kecil, karena track disini lumayan panjang dan bikin haus sekaligus lapar. Kurang lebih enam jam perjalanan ditempuh dari Padang Balong hingga ke Plawangan Sembalun, sekitar pukul 4 sore saya dan teman-teman sampai di Plawangan Sembalun. 

salah satu tanjakan di bukit penyesalan

view sekitar bukit penyesalan, puncak Rinjani sudah terlihat

Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun

Plawangan Sembalun

lokasi kemah di Plawangan Sembalun, awan mengitari kita

salah satu menu makanan kami, kelas!


Hari ke-3:
16 Oktober 2015
Rencana untuk summit kami adalah pukul 12 tengah malam, tapi karena angin saat itu lumayan kencang. Jadi, kami baru bisa berangkat jam setengah 3 dini hari. Berbekal tekad, dan doa, kami siap menggapai Puncak Rinjani. Udara cukup dingin dan angin masih kencang. Sejujurnya saya sedikit takut ketika harus berjalan malam hari, karena penglihatan yang kurang bagus. Belum apa-apa, track menuju puncak sudah terasa berat. Bukan bebatuan lagi yang saya temukan, tapi track pasir yang bikin kaki rasanya cepat lelah. Saya tidak terlalu tergesa dan harus bisa mengatur nafas. Karena semakin tinggi, nafas juga tidak bisa terlalu panjang. Ketika sunrise terbit, saya dan rombongan belum sampai di puncak. Tapi saya sempat melihatnya saat diperjalanan. Seperti yang dijanjikan, matahari akan selalu tepat waktu.

menjelang sunrise

Semakin mendekati puncak, perjalanan jadi terasa semakin berat. Kami mulai terpisah satu per satu, angin kencang dan juga medan dengan tidak banyak tempat untuk berlindung memaksa saya untuk terus berjalan, karena kalau terlalu lama berhenti akan terasa dingin. Di pertengahan jalan, sempat terpikirkan untuk kembali saja ke bawah, namun jarak antara puncak dan tempat kemah sama jauhnya. Kemudian saya memutuskan untuk berhenti sebentar, ngga bohong kalau saya juga pengin nangis saking capeknya dan ngga sampai-sampai puncak. Hu-hu. Tapi, setelah melihat pemandangan disekeliling, saya serasa punya kekuatan lagi untuk mendaki jalan yang tingkat kemiringannya sekitar 40 - 60 derajat ini. 


we start, we struggle, we rise, we alive

Setelah sekitar 6 jam perjalanan yang melelahkan, sekaligus bergelut dengan diri sendiri, saya tiba di Puncak Rinjani. Tidak masalah jadi yang paling akhir, asalkan sampai. Saya masih ngga percaya kalau akhirnya saya ada di Puncak Rinjani, rasanya mau nangis tapi malu. Ha-ha. Jadi aja cuma bengong. Ngga perlu ditanya, perasaan pas sampai puncak. Semua rasa capek hilang mendadak, saya cuma bisa mengucap syukur atas kebesaranNya. Tuhan itu ada, Dia datang bersama dengan segala keindahanNya dan juga kekuatanNya untuk meneguhkan hati setiap hambaNya yang percaya. Subhanallah. Terimakasih Tuhan, kami semua summit!

ki - ka: Are, Aisha, Mang Adi, Cipta, Aris, Eje dan Saya.


Ika
25/10



Tidak ada komentar:

Posting Komentar